Jeritan penonton Bayaran

Jeritan penonton Bayaran

Senin pagi aku bangun memulai hari-hariku seperti biasanya, sarapan pagi sambil menonton acara pagi di TV. Tak terasa sudah badan ini lelah rasanya bekerja menjadi seperti kuli, menahan panas, menghirup udara kotor dan menahan rasa marah di jalan, saat menjadi Pengemudi online. Namun hari ini berbeda, aku mendapatkan info yang membuat otak ini mengingatanku, pernah aku lakukan saat berada di bangku hitam, bersama teman-temanku saat itu untuk menghapus kejenuhan. Namun sayangnya ini berbeda aku berada di posisi yang paling bawah bersama teman-teman yang belum merasakan tingginya ilmu.

Inilah mereka penonton bayaran kelas Alay, aku merasakan berbeda saat berada di sana, memang” tak seberapa penghasilan menjalani pekerjaan ini namun jika di hitung setiap hari dan jam tontonan mungkin akan setara dengan gaji Data entry. Cukup untuk membuat handphone tidak menangis dan perut tidak mengiris.

Aku dan mereka rela datang lebih pagi dan lebih lama menunggu untuk mendapatkan absen dan posisi utama dalam tim. Aku banyak melihat hawa negatif yang begitu parah, namun dari sinilah bakat dan plesetan baru menyebar ke masyarakat.Di setiap sudut aku selalu melihat sisi yang baik karena tak semua bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, karna ada pula yang sedikit serong,preman dan kebancian ada semua disini. Dan mereka juga bekerja sesuai kemampuannya masing-masing, aku tak bisa menilai dari segimana yang baik namun aku hanya melihat kesetaraan kebersamaan yang sangat solid.

Tak jarang aku mendengar mereka menceritakan kepaitan hidup yang rela tidur di masjid dan musolah, rela digebuk keamanan setempat di sekitar tempat ini untuk bertahan hidup, Bukannya mereka tak punya rumah, di antara mereka ada yang rela meninggalkan rumah hanya untuk bisa hidup mandiri dan membanggakan kedua orang tuanya walau dengan alasan yang berbeda.

Belum lagi mereka harus sangat Fit saat menjadi penonton, dengan berteriak, bertepuk tangan, melambaikan tangan, mengikuti setiap jeda dan suara pemain aktor yang sedang berperan. Dan rupanya semua yang ada di T#, artisnya, pemainya kebanyakan setingan dunia haram, mereka sombong dan selalu bilang ketika Break iklan “Kalian Generasi Nunduk”.

 

Berangkat pagi pulang pagi mereka harus lakukan, berdandan cantik, bergaya keren, menyakinkan penonton di rumah itu bukan hal yang mudah. Ada pula kejahatan verbal saat break iklan yang terjadi antara koordinator dan tim, mereka sangat tidak teratur saat menonton dan berlanjut ke ruangan tunggu penonton.

Inilah Jeritan Penonton bayaran yang harus di terima dan harus di lakukan untuk bisa memenuhi beban hidup yang begitu banyak maunya.

“Penonton Yang Baik adalah Penonton Yang tau Batasan, Tempat dan waktu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *